Selasa, 08 Desember 2015

Ketika Mereka Mulai Menua


Sebuah artikel dengan caption “Berseteru memperebutkan Hak Pemeliaharaan Ibu” melintas di timeline facebook saya. Sempat penasaran dengan caption yang menggugah hati untuk membacanya itu. Terbawa rasa penasaran akhirnya saya pun coba untuk klik link artikel dan membacanya. Subhanallah.... Saya terkesimak dengan apa yang saya temukan dalam artikel itu. Dua orang anak datang kepengadilan untuk memperebutkan hak merawat ibu mereka yang sudah tua dan renta. Anak yang kalah malah menangis berucucuran air mata karena tak punya kesempatan penuh untuk merawat sang ibu. Ini sangat betolak belakang dengan apa yang terjadi di zaman sekarang yang kebanyakan anak setelah mencapai kesuksesan malah menelantarkan orang tuanya, menitipkan ke panti jompo atau membiarkan nya hidup sendiri padahal sang anak mampu untuk menanggung hidup orang tua itu. kalau pun ada yang sampai kepengadilan bukan untuk memperebutkan hak merawat orang tua tapi untuk memperebutkan harta warisan.

Cobalah bayangkan bagaimana perjuangan mereka orang tua dalam membesarkan anak nya. Seorang ibu misalnya, merasakan beratnya hamil selama lebih kurang 9 bulan yang membuat nya sulit untuk beraktivitas normal sampai pada saat melahirkan pun harus bersabung nyawa demi dapat melihat sang anak terlahir ke dunia. Tak terkecuali pun ayah yang rela melawan teriknya panas dan dinginnya hujan demi menafkahi istri dan anaknya. Tertatih mengais rupiah untuk mengantarkan sang anak menuju kesuksesan. Mereka melalui semua dengan ikhlas demi kasih sayang kepada anaknya. Namun begitu sang anak dewasa dan meraih kesuksesannya yang terjadi malah sangat menusuk jiwa. Sang anak tega untuk menelantarkan orang tua yang sudah sangat berjasa pada diri nya itu bahkan lebih parahnya orang tua yang sudah renta itu dijadikan pembantu, dibentak - bentak, dimarah-marahi dan tak jarang juga terjadi kekerasan fisik. Itu lah fenomena yang banyak terjadi saat sekarang ini. Naudzubillahi min zalik....

Dalam islam salah satu ajaran paling penting setelah ketauhidan adalah berbakti kepada kedua orang tua. Begitu banyak ayat - ayat alquran dan hadist yang menyerukan berbuat baik kepada orang tua. Salah satu nya yang terdapat dalam Q.S Al-Isra’

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q, s. al-Isra’ / 17:23)

Untuk bertkata “ah” saja sudah dilarang apalagi membentak, memukul, menendang dan kekerasan fisik lainnya. Lagi pula apakah pantas sebagai seorang anak melakukan hal itu kepada orang yang sudah membuat kita ada di dunia ini, yang sudah mengajarkan kita banyak hal dari mulai saat kita baru mengenal dunia?

Pada kesempatan lain masih pada timeline facebook kembali saya menemukan sebuah artikel namun kali ini menceritakan seorang anak laki - laki yang tega memperlakukan orang tua nya dengan cara berbeda tepatnya ketika makan bersama, sang orang tua dalam hal ini ayah nya disediakan tempat makan yang terpisah dari mereka (sang anak, menantu, dan cucu) dan juga dengan peralatan berbeda yaitu piring plastik, gelas plastik dan wadah plastik. Padahal si ayah sangat mendambakan saat - saat dimana dia bisa menikmati makan bersama anak tercinta, tapi sayang dia berada di meja yang berbeda. Alasan si anak memperlakukan ayah nya seperti itu sangat simple hanya karena sang ayah sering menjatuhkan piring ketika makan dan makannya berantakan (seperti anak kecil makan).

Wahai saudaraku, ingatkah kau masa kecil mu dulu yang ketika kau menyuap makanan sendiri? piring makan mu berserakan dan tak jarang di meja sekeliling piringmu pun dipenuhi dengan tumpahan - tumpahan makanan. Ketika kau mengangkat gelas untuk minum terkadang kau pun menjatuhkan nya membentur lantai atau meja makan hingga pecah berantakan. Namun bagaimana reaksi mereka - ayah dan ibu - ketika itu? Dengan lembut mereka berkata “anak pintar makannya yang rapi ya Nak, nggak boleh berantakan kaya gini” atau “pegang gelas nya yang benar ya sayang biar nggak jatuh, besok jangan seperti itu lagi ya megang nya” sambil membantu kamu merapikan makanan dipiring mu dan memunguti pecahan gelas yang sudah kau buat berantakan. Begitu lembut, begitu penuh kasih sayang mereka memperlakukan ketika itu. Tapi disaat mereka menginjak usia uzur, usia dimana semua kelakuannya seperti kembali ke masa kanak - kanak, pantaskah untuk memperlakukannya dengan kasar bahkan sampai membuat dia merasa terasing? Inilah dunia akhir zaman, dimana budak wanita melahirkan majikannya, rasa hormat pada orang tua mulai menipis. Semoga Allah memelindungi kita dari fitnah akhir zaman. Aamiin.!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar