Selasa, 19 April 2016

Tuhan, Maafkan Aku Pernah Pacaran (Nasehat Untukku dan Untuk Sahabat Muslim Tercinta)


Awas!!!! Si Merah Jambu Mengancamu
Pagi tadi ngoprek – ngoprek facebook tiba – tiba tersentak dengan sebuah artikel yang kira – kira berjudul “Bagaimana agar pacaran bernilai ibadah“.
Awalnya sempat berpikir kalau pacaran yang dimaksud disini pacaran setelah menikah. Tapi setelah dibaca ternyata sesuatu hal yang mengingatkan pada masa – masa yang juga pernah dilakukan dulu. Di awal artikel itu penulis memang menuliskan bahwa islam melarang aktivitas pacaran, tapi seperti nya si penulis mencari celah bagaimana agar pacaran itu bernilai dalam islam – boleh dibilang pacaran secara islami – dengan mengdepankan beberapa trik yang bisa dilakukan. Trik – trik yang dituliskan itu yang kebanyakan dilakukan para aktivis pacaran islam saat ini mungkin salah satu dari kebanyakan itu termasuk diri saya sendiri.
Diantara trik itu dituliskan kalau mau jalan dengan cow/cew (sang pacar) jangan jalan berdua saja, ajaklah 1 atau 2 orang teman atau mungkin bisa rame – rame. Kemudian trik berikutnya juga ditulis, jika memberi perhatian/pujian yang berhubungan dengan islam juga, misalnya “kamu cantik klo pake kerudung kaya gini. ” atau “sudah shalat belum? Ayo kita shalat bareng”. Naudzubillahimindzalik….. begitu kuatnya fitnah dunia ini, sampai untuk hal yang sudah nyata – nyata dilarang oleh islam pun masih saja dicari pembelaannya. Pergaulan laki – laki dan perempuan itu sudah jelas diterangkan dalam Al-qur’an salah satunya Surah An-Nur ayat 31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : ” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur : 31)

Yang disampaikan dalam artikel itu mungkin memang bisa menghindarkan beberapa hal yang dikhawatirkan terjadi, seperti jika mau jalan ajak teman berangkatnya rame – rame, ini bisa menghindari khalwat/berdua-duaan. Tapi bagaimana dengan urusan hati? Akankah kita mampu untuk menjaganya juga? Sementara hati itu adalah organ yang sangat sensitif dengan sebuah perhatian dan dalam aktivitas pacaran ini sudah pasti ada sekalipun perhatian itu diarahkan pada yang berhubungan dengan agama. Sudah dipastikan hati itu akan berbungan – bunga, dan disitulah syetan akan masuk dengan segala tipu daya nya.

Mungkin ketika itu kita berpikir “aku bisa kok ngendaliin diri, ga akan terpedaya lah. Kan kita jaga – jaga juga.” Tapi adakah terlintas dipikiran kita bahwa syetan itu jauh lebih tau cara untuk menyesatkan manusia? apalagi kita coba – coba mendekati pintunya. Pacaran itu pintu menuju perzinaan, yang nggak pacaran aja bisa zina apalagi yang pacaran. Zina paling kecil yang ditimbulkan dari pacaran adalah zina hati. Sekarang secara bijak, marilah kita bertanya pada hati kita, adakah pacaran sebelum pernikahan itu bernilai ibadah? Apakah pacaran itu bermanfaat atau malah membawa kemudharatan? Kalau mau pacaran yang benar – benar bernilai ibadah HALALKAN saja, sudah pasti semua aktivitas nya adalah ibadah.

Untukmu dan untuk diri ku yang pernah terjun sebagai aktivis pacaran, marilah kita memperbaiki diri dan memohon kepada-NYA dengan sepenuh hati, seikhlas jiwa aga Allah memberi ampunan atas kesalahan yang pernah kita perbuat. Dan untukmu yang telah memilih untuk tidak bepacaran, sungguh kami cemburu padamu yang mampu mengendalikan nafsu sedemikian bijaknya. Engkau mampu menjaga dirimu sekalipun nafsu bergejolak dalam jiwa. Semoga Allah slalu melindungi kita dari cinta yang salah sampai tiba saatnya sang pangeran impian menjemput dan Allah mempersatukan  dalam pernikahan yang suci hingga pacaran itupun bernilai ibadah.

2 komentar:

  1. masya Allah ukhti tulisannya.., bagus banget.., buat bukunya juga ukhti..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah ukhti, semoga terwujud. Mohon do'a nya ya.... :-) Mari kita sama2 memperbaiki diri

      Hapus